Milad HMI ke-63 Tahun (05 Februari 1947 - 05 Februari 2010)
Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-63 tahun ini mengambil tema "Meneguhkan Etos Kejuangan HMI Mewujudkan Indonesia Bersih ", dengan rangkaian kegiatannya pengobatan gratis, lomba karya tulis ilmiah, HMI peduli pendidikan dan malam resepsi 63 tahun HMI. Alhamdulillah untuk acara pengobatan gratis sudah terlaksana pada tanggal 30 januari - 01 februari 2010 di tasikmalaya, untuk acara pengobatan gratis ini PB HMI berkerjasama dengan Bakornas LKMI. Lomba karya tulis ilmiah ini ditujukan bagi siswa/i SMU/sederajat se-Indonesia, agar siswa/i ini dapat meningkatkan kreatifitas, inovasi, pengetahuan mereka serta menumbuh-kembangkan minat, bakat dan kemampuan dalam menulis. Acara HMI Peduli Pendidikan Sebagai ajang penggalangan dana pendidikan untuk disalurkan kepada siswa/siswi dan mahasiswa prestasi yang kurang mampu (miskin) dalam bentuk beasiswa pendidikan.
Adapun penjelasan dari pengambilan tema diatas adalah Edwart B. Tylor mengemukakan budaya sebagai ‘the complex whole which includes knowledge. belief, art, morals, law, costum, and anyother capabilities ang habits acquired by man as a member of society" Yaitu sekumpulan pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum dan adaptasi, kapabilitas dan kebiasaan yang diperoleh seseorang sebagai anggota perkumpulan atau komunitas tertentu. Dan dalam sosiologi kerap diterjemahkan sebagai kumpulan simbol, mitos, dan ritual yang penting dalam memahami sebuah realitas sosial. Inilah yang dimaksudkan Comte dalam tafsir fisika sosial (1839-1924) sebagai cara pandang terhadap masyarakat sebagai sesuatu hal yang bersifat mekanis dengan ciri-cirinya yang linier, statis, eksperimental dan terkuantifikasi. Dimana variabel-variabel tersebut menjadi pilar penting dan karakteristik bagi komunitas tersebut.
Indonesia sebagai sebuah komunitas besar tentunya memiliki realitas yang kompleks. Luas wilayah yang terbentang dari Meraoke sampai Sabang tidak kurang dari 17.000 pulau dan lima kepulauan besar. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia serta sumberdaya alam yang melimpah. Tetapi justru menimbulkan dan memiliki permasalahan yang juga semakin kompleks yang alih-alih dapat memicu chaos di dalam masyarakat. Harmoni social yang ‘digadang-gadangkan' serta yang diharapkan oleh masyarakat tidak kunjung terwujud.
Memasuki awal periodesasi perjalanan negara selama lima tahunan yang kini dinahkodai oleh rezim kepemimpinan dari hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI tahun 2009, sejumlah pandangan pesimis dan optimis kian menjamur dan subur. Tiga agenda besar yaitu "Membangun Indonesia yang Sejahtera dan Berkeadilan" ingin diwujudkan selama kepemimpinan tersebut. Namun agenda hanyalah agenda. Pada kenyataannya justru keadilan (hukum) di Indonesia (sebagai negara hukum) mengalami kemunduran. Korupsi sebagai permasalahan utama telah menjangkiti di setiap sendi lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat tidak mendapatkan keadilan pada tempatnya, karena instrument-instrumen penyedia keadilan telah saling menegasikan fungsi wewenangnya. Seperti, konflik KPK vs Polri, Kejaksaan, dan lembaga tinggi negara lain yang menjadi piranti penegakan keadilan (hukum). Sehingga masyarakat mencari keadilan melalui gerakan-gerakan sosial. Skandal kasus bail out Bank Century yang merugian negara sebesar 6, 7 triliun rupiah juga belum dapat diselesaiakan. Bahkan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPR RI bekerja hanya sekedar mengumpulkan narasi dan kesaksian yang tak berujung. Dan harapan adanya Indonesia yang berkeadilan kian memupus.
Di awal tahun 2010 Indonesia sedang berada dalam gerak dinamis hubungan internasional yang secara teoritik memadukan dunia sebagai sebuah "meja bilyard" dimana aktor-aktor negara dan bukan negara berbenturan satu sama lain agar tetap survive (pendekatan realis) dan dalam pendekatan idealis dan konstruktivis merupakan sebuah "global village" yang aktor-aktornya saling bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih baik, lebih aman, dan lebih maju, (Ikrar N.B, 2009). Pemberlakukan Asean-China free thead Area menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi Indonesia guna memperjuangkan kepentingan nasional (nasional interest) di fora internasional.
Selain itu, sumberdaya manusia (SDM) yang masih manjadi kendala utama untuk menjadi sebuah negara maju belum tertangani secara serius. Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi instrument dalam membangun dan mengembangkan SDM (Human Resourches Development) belum mampu menjawab tantangan global, otonomi daerah, desentralisasi pendidikan guna pengembangan pendidikan yang relevan dengan lingkungan kehidupan masyarakat. Kondisi ini ditunjukkan oleh Human Development Index (HDI) menyebutkan bahwa Indonesia berada pada posisi 107 dari 175 negara di dunia. Maka negara berkewajiban membangun masyarakat berpengetahuan (masyarakat informasi/ masyarakat ICT) dan masyarakat yang sehat sebagai modal menjadi negara maju. Demi perwujudan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan pada tanggal 5 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Lafran Pane, dkk. kini memasuki usianya yang ke-63 tahun (1947-2010). Sejarah telah membuktikan bahwa HMI banyak berdialektika dengan proses sejarah panjang bangsa Indonesia, dan tidak sedikit HMI diposisikan sebagai bahagian terpenting yang mengantar perubahan-perubahan positif, baik perubahannya secara politik, ekonomi, maupun ideologi. Pada Dies Natalis ke-1 tahun 1949 Panglima Besar TNI Jendral Soedirman mengatakan bahwa HMI adalah "Harapan Masyarakat Indonesia" dan hal ini diulangi oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada perayaan dies natalis ke- 62 tahun 2009. Semakin mempertegas bahwa maju atau mundurnya Indonesia HMI menjadi faktor kunci di dalamnya.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi perjuangan (AD pasal 9) dituntut untuk selalu menunjukan tipikal khas-nya. Semangat menumbuhkan etos perjuangan dalam diri kader harus senantiasa ditingkatkan. Karena etos kejuangan HMI menjadi kekuatan utama untuk mewujudkan tujuan organisasi pada setiap agenda setting social. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dan Independensi HMI adalah bentuk komitmen dan keteguhan HMI dalam mempelopori dan memimpin setiap perubahan. Etos kejuangan HMI dapat direfleksikan dalam memecahkan dan menjawab sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh organisasi dan negara seperti yang dipaparkan di atas. HMI telah meneguhkan etos kejuangannya dalam mewujudkan Indonesia yang bersih. Indonesia yang bersih yaitu Indonesia yang berkeadilan serta bebas dari praktik-praktik korupsi dalam penyelenggaraan bangsa.
SUSUNAN PANITIA
Penanggung Jawab
Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam : Arip Musthopa
Panitia Pengarah (Steering Committee)
Koordinator : Andi Muhammad Ilham
Sekretaris : Agus Mariyanto
Anggota : Ahmad Nasir Siregar
M. Syahril Wasahua
Muzakkir
Zainal A. Latar
Sukri SM
Rahmat Fikri
Andi Sukmono Kumba
Arif Budiman
Suardi Erik
Bambang M Fajar
Rifai Malawat
Dewita Hayu Shinta
Lalu Sultan Hamid
M. Erpandi Dalimunthe (Eks-Officio)
Visitors :56274 Org
Hits : 233055 hits
Month : 2446 Users